DEFINISI IMAN
2.0 MAKSUD DEFINISI IMAN
Definisi Iman
Menurut bahasa iman bererti
pembenaran hati. Sedangkan menurut istilah, iman adalah:
تَصْدِيْقٌ بِاْلقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ
بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ.
“Membenarkan dengan hati,
mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan.”
Ini adalah pendapat jumhur.
Dan Imam Syafi’i meriwayatkan ijma’ para sahabat, tabi’in dan orang-orang
sesudah mereka yang sezaman dengan beliau atas pengertian tersebut.
2.1 PENJELASAN
DEFINISI IMAN
“Membenarkan dengan hati”
maksudnya menerima segala apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.
“Mengikrarkan dengan lisan”
maksudnya, mengucapkan dua kalimah syahadat, syahadat “Laa ilaha illallahu wa
anna Muhammadan Rasulullah” (Tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah dan
bahawa Muhammad صلى الله عليه و سلم adalah utusan Allah)
“Mengamalkan dengan anggota
badan” maksudnya, hati mengamalkan dalam bentuk keyakinan, sedang anggota badan
mengamalkannya dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan fungsinya.
Kaum salaf menjadikan amal
termasuk dalam pengertian iman. Dengan demikian iman itu boleh bertambah dan
berkurang seiring dengan bertambah dan berkurangnya amal soleh.
2.2 DALIL-DALIL
PARA SALAF
Para salaf bersandar kepada
pelbagai dalil, diantaranya adalah:
Firman Allah swt:
“Dan tiada kami jadikan
penjaga Neraka itu melainkan dari malai-kat; dan tidaklah kami menjadikan
bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cubaan orang-orang kafir, supaya
orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang-orang yang
beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan
orang-orang mukmin tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit dan orang-orang kafir (menyatakan), ‘Apakah yang dikehendaki Allah
dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?” (Al-Muddatstsir: 31).
Firman Allah swt :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut
nama Allah gementarlah hati mereka, dan apabila di-bacakan kepada mereka
ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka (kerananya) dan kepada Tuhanlah mereka
bertawakkal, (iaitu) orang-orang yang mendirikan solat dan yang menafkahkan
se-bagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang
beriman dengan sebenar-benarnya.” (Al-Anfal: 2-4).
Sabda Rasulullah saw. yang
diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, ia berkata
bahawasanya Rasulullah saw. bersabda:
“Iman itu tujuh puluh
cabang lebih atau enam puluh cabang lebih yang paling utama adalah ucapan “la
ilaha illallahu” dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan
(kotoran) dari tengah jalan, sedang rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari
iman.” (HR. Muslim, 1/63).
Sabda Rasulullah saw.
, riwayat Abu Sa’id Al-Khudry, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah
saw. bersabda:
“Siapa yang melihat
kemungkaran di antara kalian, maka hen-
daklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka
dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian
itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, 1/69).
2.3 BAGAIMANA
DALIL-DALIL TESEBUT MENUNJUKKAN BAHAWA IMAN DAPAT BERTAMBAH DAN BERKURANG ?
Dalil Pertama:
Di dalamnya terdapat penetapan bertambahnya iman orang-orang mukmin, iaitu
dengan persaksian mereka akan kebenaran nabinya berupa terbuktinya khabar
beritanya sebagaimana yang tersebut dalam kitab-kitab samawi sebelumnya.
Dalil kedua:
Di dalamnya terdapat
penetapan bertambahnya iman dengan mendengarkan ayat-ayat Allah bagi
orang-orang yang disifati oleh Allah, iaitu mereka yang jika disebut nama Allah
tergeraklah rasa takut mereka sehingga mengharuskan mereka menjalankan perintah
dan menjauhi larangannya. Mereka itulah orang-orang yang bertawakkal kepada
Allah. Mereka tidak mengharapkan selainNya, tidak menuju kecuali kepadaNya dan
tidak mengadukan hajatnya kecuali kepada-Nya. Mereka itu orang-orang yang
memiliki sifat selalu melaksanakan amal ibadah yang di syariatkan seperti
solat, puasa dan zakat. Mereka adalah orang-orang yang benar-benar beriman,
dengan tercapainya hal-hal tersebut baik dalam i’tiqad mahupun amal perbuatan.
2.4 AMALAN YANG BOLEH
MENINGKATKAN IMAN
1. Perbanyakkan menyemak
dan memahami ayat-ayat Al-Quran
Al-Qur’an diturunkan Allah
sebagai cahaya dan petunjuk, sebagai ubat bagi hati manusia. “Dan Kami turunkan
dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi ubat dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman.” (Al-Isra ‘: ayat 82).
Kata Ibnu Qayyim, yang
seharusnya dilakukan oleh seorang muslim untuk menyembuhkan hatinya melalui
Al-Quran, “Caranya ada dua macam: pertama, engkau harus mengalihkan hatimu dari
dunia, lalu engkau harus menempatkannya di akhirat. Kedua, sesudah itu engkau
harus menghadapkan semua hatimu kepada pengertian-pengertian Al-Qur’an,
memikirkan dan memahami apa yang dimaksudkan dan mengapa ia diturunkan. Engkau
harus mengamati semua ayat-ayat-Nya. Jika suatu ayat diturunkan untuk mengubati
hati, maka dengan izin Allah hati itu pun akan sembuh. ”
2. Perbanyakkan ingat akan
mati
Rasulullah saw. bersabda,
“Dulu aku melarangmu menziarahi kubur, ketahuilah sekarang ziarahilah kubur
kerana hal itu boleh melunakkan hati, membuat mata menangis mengingatkan hari
akhirat, dan janganlah kamu mengucapkan kata-kata yang kotor.” (Shahihul Jami
‘. 4584)
Rasulullah saw. juga
bersabda, “Banyak-banyaklah mengingati penebas kelazatan-kelazatan, iaitu
kematian.” (Tirmidzi. 230)
Mengingati mati boleh
mendorong kita untuk mengelak diri dari berbuat durhaka kepada Allah dan dapat
melunakkan hati kita yang keras. Kerana itu Rasulullah menganjurkan kepada
kita, “Kunjungilah orang sakit dan iringilah jenazah, nescaya akan mengingatkanmu
terhadap hari akhirat.” (Shahihul Jami ‘. 4109)
Melihat orang sakit yang
sedang sakaratul maut sangat memberi kesan. Saat berziarah kubur, bayangkan
keadaan orang yang sudah mati. Tubuhnya rosak membusuk. Ulat memakan daging,
isi perut, lidah, dan wajah. Tulang-tulang hancur.
Bayangan seperti itu jika
teringat di dalam hati, akan membuat kita menyegerakan taubat, membuat hati
kita puas dengan apa yang kita miliki, dan tambah rajin untuk melakukan ibadah.
2.5 PERKARA YANG MELEMAHKAN
IMAN
1. Suka melengah-lengahkan
tindakan atau mengabaikan amanah.
Firman Allah s.w.t;
“ Hai orang-orang yang
beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu:"Berangkatlah (untuk
berjihad) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di
tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan
akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan )
di akhirat hanyalah sedikit.”
(S. at Taubah 38)
Melengah-lengahkan
tanggungjawab atau tugas yang diamanahkan akan melemahkan keimanan yang telah
dikurniakan oleh Allah; sebaliknya kita hendaklah segera melaksanakannya
mudah-mudahan Allah meredhai usaha kita dan mengukuhkan iman kita.
Firman Allah s.w.t. lagi;
“Berangkatlah kamu baik
dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan
dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu
mengetahui.”
(S. at Taubah 41)
Tanpa mengira waktu senang
atau susah, payah atau mudah, kita hendaklah berusaha untuk melakukan apa yang
diperintahkan oleh Allah.
2. Terpedaya, leka dan
lalai dengan kehidupan dunia.
Kehidupan di dunia adalah
suatu kehidupan yang melalaikan tetapi orang beriman akan berusaha
menghindarkan dirinya daripada tergoda dan terpesona dengan kehidupan dunia,
Tetapi kehidupan dunia hendaklah dipergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan
Islam serta mencari keredhaan Allah. Firman Allah s.w.t.;
“Hai manusia, bertakwalah
kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak
tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong
bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali
kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan)
memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”
VIDEO penjelasan berkaitan
definisi iman daripada ustaz dzulqarnain muhammad sunusi
Ulasan
Catat Ulasan